Tak lama lagi rakyat kecil akan merasakan pil pahit. Bersamaan gulung
tikarnya semua sentra-sentra industri kecil, yang banyak menyerap
tenaga kerja. Pengangguran semakin berjibun. Orang miskin semakin
berjejer-jejer, tanpa memiliki lagi harapan masa depan. Hal ini
berkaitan dengan keputusan pemerintah, tentu dalam hal ini, langkah
Presiden SBY, yang menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas
Asean-Cina (CAFTA).
Sejatinya Indonesia terlalu memaksakan diri ikut ke dalam sistem
perekonomian dunia, tanpa diserta pertimbangan yang matang. Sektor
ekonomi menengah ke bawah masih sangat rapuh. Hal ini sejak zaman
Presiden Soeharto sampai Presiden SBY, sektor ekonomi menengah ke bawah
tidak pernah dibangun dengan sungguh-sungguh. Justru sejak zaman Orba
sampai sekarang ini, justru yang mendapatkan proteksi, modal, dan
lisensi, para pengusaha besar (konglomerat), yang sudah berubah menjadi
kartel, dan menguasai jaringan usaha dari hulu sampai ke hilir.
Sementara itu, pengusaha menengah ke bawah, yagn notabene jumlah
banyak, tak pernah mendapatkan sentuhan pemerintah, dan dibiarkan hidup
dengan sendirinya. Pemerintah sejak zaman dinasti Soeharto sampai SBY,
relatif sangat kecil porsi yang diberikan ke pengusaha menengah yang
menjadi tulang punggung ekonomi nasional, melalui aktivitas ekonomi di
sektor riil. Pemerintah masih tetap bersikap konservatif, terus berkutat
kebijakan pada sektor ekonomi makro. Sehingga dengan kebijakan seperti
ini, tak mungkin mengangkat kehidupan pengusaha menengah kecil. Sampai
sekarang suku bank yang ditetapkan Bank Central (BI), yang diatas 14
persen, yang tidak mungkin dapat menupang usaha-usaha sektor riil.
Ditengah-tengah sektor ekonomi dari kalangan pengusaha menegah
kebawah yang megap-megap ini, Presiden SBY bersama denga pera pemimpin
Asean menandatangani perjian CAFTA, yang akan berdampak hancurnya
seluruh perekonomian rakyat. Indonesia akan hanya menjadi negara
konsumen, yang akan menjual produk-produk barang-barang dari Cina.
Aktivitas sektor indusrti kecil menengah akan punah dengan sendiri.
Segala barang dari Cina pasti akan masuk kedalam pasar domestik
Indonesia, dari kota sampai ke desa-desa. Tak ada barier (hambatan) atau
restrik (pembatasan) dengan adanya perjanjian itu. Bahkan, sekarang
saja belum diberlakukan perjanjian CAFTA, Indonesia sudah kebanjiran
barang-barang dari Cina, baik yang legal atau illegal.
Tapi, bersamaan dengan CAFTA akan banyak pabrik yang gulung tikar,
tidak akan mampu lagi, menghadapi gelombang serbuan dari barang-barang
Cina, yang pasti membanjiri pasar domestik. Produk-produk ‘home
industri’ Cina yang dibeli negara, kemudian di eksport ke negara-negara
Asean itu, tak lain hanya menjadi pembunuh rakyat di kawasan Asean.
Meskipun, negara-negara lain, diluar Indonesia sudah jauh lebih siap
menghadapi serbuan barang-barang Cina dibandingkan dengan Indonesia.
Karena, memang barang-barang Indonesia sangat tidak kompetitip, bukan
hanya kaulitas yang rendah, tetapi juga harga yang mahal. Karena, produk
barang-barang terlalu banyak dibenani variabel, diluar faktor ekonomi,
seperti pungli, berbagai perizinan, dan juga upeti-upeti, yang mengakib
atkan tambahan biaya.
Seharusnya pemerintah Indonesia melakukan proteksi terhadap industri
dalam negeri Indonesia, dan melindungi industri dalam negeri yang m asih
dari kemampaun melakukan persaingan ditingkat regional, termasuk
menghadpai barang-barang Cina. Cina yang memiliki jumlah penduduk
sebesar 1,3 milyar, seharusnya menjadi pasar barang-barang dari
negara-negara Asean, tetapi kenyataannya, negara-negara Asean yang
menjadi tempat pembuangan barang-barang yang diproduksi oleh Cina.
Banyak negara-negara industri maju, yang bersikap proteksionis,
khususnya untuk melindungi rakyat mereka. Amerika, Jepang, Perancis, dan
beberapa negara lainnya, juga mereka melidungi rakyatnya. Petani di
Amerika tetap mendapatkan subsidi dari pemerintah Amerika, meskipun
Amerika sudah terikat dengan perjanjian perdagangan bebas, tapi Amerika
bersikeras memberkan perlindungan para petani mereka dengan jalan
memberikan subsidi.
Indonesia menghadapi masa depan yang suram dengan tingkat pertumbuhan
ekonomi, yang paling tinggi, hanya 6 persen, dan mungkin dibawah 6
persen, sangat sulit untuk mengatasi jumlah angkatan kerja yang terus
bertambah. Sementara itu, pemerintah tidak mau melindungi pengusaha
menengah dan kecil, yang banyak menyerap tenaga kerja, tetapi justru
sekarang ini pemerintah dalam hal ini Presiden SBY, ikut dalam
perjanjian bebas dengan Cina melalui CAFTA, yang akhirnya akan mematikan
seluruh sektor ekonomi menengah kebawah, yang banyak menopang mereka.
Inilah pahitnya kehidupan di bawah pemeritahan rejim SBY.
Asset-asset negara dan sumber daya alam dikuasai asing, sementara
sentra-sentra produksi rakyat habis akibat serbuan barang-barang Cina,
inilah keadaan yang dihadapi Indonesia di masa depan.
tetapi itu hanya sebuah perkiraan dimana indonesia akan menjadi itu ,
disaat inilah sebelum kita merasakan hal yang suram itu , mari kita
satu kan rasa kesatuan kita untuk kesejahteraan bangsa dan negara
indonesia . terutama diri kita sendiri . tetap semangat bangsa ku karena
ku yakin kita pasti bisa karena kita kan terus saling kerjasama !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar