Rabu, 24 September 2014

Apa Itu ISIS?

Jika para pengunjung sering mengikuti berita-berita internasional, maka para pengunjung pastinya tahu kalau Suriah saat ini sedang dilanda perang saudara. Awalnya perang tersebut hanya membenturkan kubu pendukung pemerintah Suriah dengan kubu anti pemerintah Suriah yang didominasi oleh Free Syrian Army (FSA; Tentara Pembebasan Suriah). Belakangan, muncul nama ISIS sebagai peserta baru dalam konflik di Suriah. Siapa itu ISIS & apa kepentingan mereka di Suriah serta Timur Tengah?

ISIS atau lengkapnya Islamic State of Iraq & Al-Sham (Negara Islam Irak & Syam; Ad-Dawlat Al-Islamiyya Fil-Iraq Wash-Sham) adalah sebutan dari media-media berbahasa Inggris untuk kelompok Islamis bersenjata yang aktif di wilayah Irak & Suriah. Nama “Al-Sham” / “Syam” pada kelompok ini diambil dari nama versi Arab untuk kawasan di sebelah timur Laut Mediterania. Selain dengan nama ISIS, kelompok yang sama juga dikenal dengan akronim ISIL / Islamic State of Iraq & Levant (Negara Islam Irak & Levant) di mana nama “Levant” merupakan sebutan orang-orang Eropa untuk kawasan Syam.

ISIS juga bisa dideskripsikan sebagai negara tanpa pengakuan internasional karena para personil ISIS memang bercita-cita menjadikan wilayah taklukannya sebagai negara berbasis hukum Islam. Hingga bulan Juni 2014 ini, ISIS dilaporkan sudah menguasai kawasan Suriah timur laut & Irak utara. Menariknya, walaupun ISIS mengusung Islam sebagai ideologi perjuangannya, kelompok tersebut tidak benar-benar akur dengan kelompok Islamis lainnya. Sebagai contoh, ISIS yang keanggotaannya didominasi oleh Muslim Sunni kerap melakukan penyerangan kepada orang-orang Muslim Syiah. Lalu sejak permulaan tahun 2014, ISIS juga mulai terlibat konflik dengan kelompok pemberontak Jabhat Al-Nusra di Suriah.

ISIS juga bisa dideskripsikan sebagai negara tanpa pengakuan internasional karena para personil ISIS memang bercita-cita menjadikan wilayah taklukannya sebagai negara berbasis hukum Islam. Hingga bulan Juni 2014 ini, ISIS dilaporkan sudah menguasai kawasan Suriah timur laut & Irak utara. Menariknya, walaupun ISIS mengusung Islam sebagai ideologi perjuangannya, kelompok tersebut tidak benar-benar akur dengan kelompok Islamis lainnya. Sebagai contoh, ISIS yang keanggotaannya didominasi oleh Muslim Sunni kerap melakukan penyerangan kepada orang-orang Muslim Syiah. Lalu sejak permulaan tahun 2014, ISIS juga mulai terlibat konflik dengan kelompok pemberontak Jabhat Al-Nusra di Suriah.
  Wilayah kekuasaan ISIS (merah) hingga
minggu ke-2 bulan Juni 2014. (Sumber)



LAHIR DARI API PEPERANGAN
Irak adalah negara yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam sekte Syiah. Namun sejak Irak memperoleh kemerdekaannya dari tangan Inggris, pucuk pemerintahan negara berjuluk “Negeri Seribu Satu Malam” tersebut selalu dipegang oleh orang-orang Sunni, tak terkecuali di era diktator Saddam Hussein. Supaya bisa mendapatkan dukungan dari rakyatnya sendiri, Saddam tidak menggunakan isu sektarian sebagai ideologinya, tetapi menggunakan ide nasionalisme & persatuan Bangsa Arab (pan-Arabisme). Bukan hanya itu, Saddam juga menerapkan gaya pemerintahan tangan besi untuk membungkam pihak-pihak yang tidak sejalan & menjaga stabilitas dalam negeri.
Tahun 2003, pasukan koalisi multinasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) melancarkan invasi ke Irak karena adanya tuduhan kalau Irak masih menyimpan senjata pemusnah massal. Keberhasilan invasi tersebut lalu diikuti dengan tumbangnya rezim Saddam tak lama berselang. Turunnya Saddam & kacaunya kondisi dalam negeri akibat perang lantas mendorong timbulnya kelompok-kelompok bersenjata di seantero Irak. Banyak dari kelompok tersebut yang memanfaatkan sentimen kesukuan & sektarian agama supaya bisa mendapatkan dukungan & simpatisan.
  Peta Irak berdasarkan populasi masing-
masing etnis & sekte. (Sumber)


Salah satu orang yang memanfaatkan situasi Irak yang kacau & terbelah oleh sentimen sektarian adalah Abu Musab Al-Zarqawi, seorang panglima kelahiran Yordania yang berasal dari sekte Sunni & menganut aliran Salafiyah. Di tahun 90-an, Zarqawi sempat mendirikan kamp militer di Afganistan untuk mengumpulkan pengikut supaya nantinya ia bisa mengerahkan mereka untuk menggulingkan Kerajaan Yordania yang ia anggap tidak cukup agamis. Namun menyusul invasi pasukan koalisi ke Irak, Zarqawi lalu mengubah rencananya. Ia membawa para simpatisannya ke Irak untuk memerangi pasukan koalisi.
Kelompok milisi pimpinan Zarqawi nantinya dikenal dengan nama Jama’at Al-Tawhid Wal-Jihad (JTJ; Jamaah Keesaan & Jihad). Selain bertempur melawan pasukan koalisi, JTJ juga menargetkan komunitas Syiah, pekerja kemanusiaan asing, & anggota pemerintahan transisi Irak. Seiring berjalannya waktu, JTJ menjadi terkenal karena seringnya kelompok tersebut menggunakan taktik bom bunuh diri menggunakan mobil. Bukan hanya itu, JTJ juga kerap melakukan penyembelihan kepada personil lawannya, lalu merekam peristiwa penyembelihan tersebut sebelum kemudian mengunggah video rekamannya ke internet. Selebihnya, para personil JTJ juga dikenal lihai dalam melakukan serangan sembunyi-sembunyi memakai senjata api, senapan pelontar RPG, & ranjau rakitan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar